Selasa, 03 Desember 2013



Harga bahan - bahan sembako mengalami kenaikan menjelang Hari Raya Natal dan tahun baru. Kenaikan tersebut terjadi setiap tahunnya, Sehingga Ibu rumah tangga mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari - hari. Kebanyakan dari mereka akhirnya memilih untuk memenuhi kebutuhan sehari - harinya dengan membeli bahan - bahan yang lebih murah seperti makanan cepat saji. Namun, hal tersebut tidaklah baik untuk di konsumsi setiap hari bagi kesehatan keluarga.
 Karena makanan cepat saji itu tidak baik buat kesehatan manusia apa lagi buat anak- anak yang masih kecil dan dikonsumsi tiap hari. Makanan cepat saji itu sangat berbahaya pertama ada pengawet didalem bahan- bahanya yang kurang bagus buat kesehatan .Bahannya pun tidak alami , tidak segar dan tidak dapat dicerna dalam tubuh kita. Sehingga mengakibatkan banyaknya penyakit yang tidak diinginkan.
Maka dari itu makanan cepat saji tidak baik dikonsumsi sehari- hari untuk keluarga yang kita sayangi. makanan cepat saji adalah pembunuh diri kita secara perlahan-lahan contohnya mie instan dimana mie yg diberikan pengawet itu agar supaya tahan lama. Mie itu enak rasanya tapi tidak enak untuk tubuh karena mie akan dicerna dalam waktu 3 hari sehingga mie tersebut masih berada didalam usus kita yang mengeluarkan racun.
Inilah sedikit kejahatan dalam sesuatu yang cepat saji .Kita boleh sayang sama pacar kita boleh sayang sama keluarga juga tapi ingat lebih sayanglah sama tubuh kita, kesimpulanya adalah INSTAN itu tidak baik lebih baik makan yang alami –alami aja yang baik buat tubuh kita .
LEBIH BAIK MENCEGAH
DARI PADA MENGOBATI KARENA SAKIT ITU MAHAL!!!!!!

Senin, 25 November 2013

Kalimat Majemuk Bertingkat ( KMB )

Kalimat Majemuk Bertingkat

adalah kalimat yang terjadi dari beberapa kalimat tunggal yang kedudukannya tidak setara / sederajat.

Kata

Pengertian Kata

Kata atau dalam bahasa arab disebut kalimah merupakan unsur yang diucapkan atau dituliskan sebagai perwujudan dari kesatuan pikiran dan perasaan yang dapat digunakan dalam bahasa.
Meski secara tersurat dikatakan unsur yang diucapkan maupun dituliskan, rasanya yang dimaksud pengucapan tidak harus berarti bersuara. Kita tahu bahwa orang bisu juga bisa mengungkapkan kata dengan bahasanya.
Secara etimologi bahasa, kata dalam bahasa Melayu dan Indonesia berasal dari bahasa sanskerta, yaitu kathā. Dalam bahasa Sanskerta, kathā sebenarnya bermakna “konversasi”, “bahasa”, “cerita” atau “dongeng”. Namun, dalam bahasa Melayu dan Indonesia terjadi penyempitan arti semantis menjadi “kata”.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tahun 1997, kata dapat didefinisikan menjadi menjadi beberapa makna. Berikut ini definisi kata menurut KBBI.
1. Kata dapat berupa elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa
2. Kata adalah sebuah konversasi, bahasa
3. Kata adalah Morfem atau kombinasi beberapa morfem yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas
4. Kata adalah satu unit bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terdiri dari satu morfem (contoh kata) atau beberapa morfem gabungan (contoh perkataan)
Definisi pertama KBBI mengartikan kata sebagai leksem yang bisa menjadi lema atau entri sebuah kamus. Lalu definisi kedua mirip dengan salah satu arti sesungguhnya kathā dalam bahasa Sanskerta. Kemudian definisi ketiga dan keempat bisa diartikan sebagai sebuah morfem atau gabungan morfem.
Jenis-Jenis Kata
Kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas beberapa jenis. Pengklasifikasian jenis kata ini didasarkan pada bentuk dan kelas kata. Berdasarkan bentuknya, kata dapat diklasifikasikan menjadi empat. Berdasarkan kelasnya, kata dibedakan menjadi sepuluh.
Pengklasifikasian kata berdasarkan bentuknya dapat digolongkan menjadi empat, yaitu kata dasar, kata turunan, kata ulang, dan kata majemuk. Selanjutnya akan diuraikan sebagai berikut.
• Kata dasar
Kata dasar merupakan kata asli atau kata yang digunakan sebagai dasar pembentukan kata turunan atau kata berimbuhan. Beberapa contoh kata dasar adalah sapu, diam, duduk, pergi, pulang, dan lainnya.
• Kata turunan/berimbuhan
Adalah kata yang sudah berubah bentuk. Perubahan bentuk ini disebabkan adanya imbuhan. Imbuhan ini ada yang terdapat di awal atau disebut prefiks atau awalan, di tengah disebut infiks atau sisipan, dan diakhir yang disebut sufiks atau akhiran kata.
Perubahan kata dapat juga dikarenakan adanya awalan dan akhiran. Contohnya, kata turunan dipastikan. Kata dasar dipastikan adalah pasti dan diberi imbuhan di- kan
Contoh awalan adalah me-, di-, ke-, se-, dan per. Jika kata dasarnya adalah sapu dapat menjadi kata turunan menyapu. Jika kata dasarnya sapu, maka dapat menjadi kata turunan disapu.
Contoh sisipan adalah kata menyapu
Contoh akhiran adalah –an. Contoh kata turuan berimbuhan ini adalah mainan. Kata dasar mainan adalan main dan mendapat akhiran an.
• Kata ulang
Adalah kata dasar atau bentuk dasar yang mengalami perulangan, baik secara menyeluruh atau secara sebagian. Contoh kata ulang secara menyeluruh adalah anak- anak, orang- orang dan lainnya. Kata dasar anak- anak adalah anak dan diulang secara menyeluruh menjadi anak- anak yang berarti banyak anak. Contoh kata ulang sebagian adalah pohon- pohonan, bersalam- salaman dan lainnya.kata dasar pohon- pohonan adalah pohonan kemudian diulang sebagian menjadi pohon- pohonan.
• Kata majemuk
Adalah gabungan beberapa kata dasar yang berbeda dan membentuk suatu arti atau makna baru. Salah satu contohnya adalah rumah sakit. Kata majemuk ini berasal dari kata dasar rumah yang berarti tempat tinggal dan sakit yang berarti tidak sehat. Rumah sakit bukan berarti tempat tinggal yang tidak sehat, tetapi membentuk makna baru. Makna rumah sakit adalah tempat tinggal atau tempat berobat untuk orang- orang yang sedang sakit.
Selanjutnya, berdasarkan kelas katanya dapat dibagi menjadi 7 jenis, tetapi ada pula yang membaginya menjadi 10 jenis. Namun, pada dasarnya intinya sama hanya pengelompokannya saja yang berbeda. Adapun pembagian kata yang terdiri dari 10 jenis adalah sebagai berikut:
1. Kata Benda atau Noun
2. Kata kerja atau Verb
3. Kata sifat atau Adjective
4. Kata ganti atau Pronoun
5. Kata Keterangan atau Adverb
6. Kata Bilangan atau Numeralia
7. Kata sambung atau Conjunction
8. Kata Depan atau Preposition
9. Kata Sandang atau Determiner, dan
10. Kata Seru atau Interjeksi
Penjabaran Jenis-Jenis Kata
• Kata Benda atau Noun
Kata benda terdiri dari nama benda, orang, tempat, dan yang dibendakan. Kata benda dibagi menjadi dua, yakni kata benda yang nyata yang dapat ditangkap oleh panca indra (seperti laptop, kereta, kuda, penggaris), dan kata benda abstrak (seperti keadilan, kemanusiaan, kecantikan).
• Kata kerja atau Verb
Kata kerja merupakan kata yang menunjukkan aktivitas atau perbuatan. Kata kerja ada dua macam, yakni transitif (yang diikuti oleh objek), intransitif (yang tidak diikuti oleh objek), aktif (yang dilakukan oleh subjek), dan pasif (yang dilakukan oleh objek).
• Kata sifat atau Adjective
Kata sifat digunakan untuk mengungkapkan kualitas, kuantitas, dan keadaan suatu benda. Contoh: pintar, cantik, rajin.
• Kata ganti atau Pronoun
Kata ganti digunakan untuk menggantikan kata benda. Kata ganti ada beberapa macam:
Kata ganti orang 
1. Kata ganti orang pertama, yakni yang mengajak bicara. Yang termasuk kata ganti tunggal adalah aku atau saya, sedangkan untuk kata ganti orang pertama adalah jamak kami atau kita
2. Kata ganti orang kedua, yakni yang diajak bicara. Yang termasuk kata ganti orang kedua tunggal adalah kamu, sedangkan kata ganti orang kedua jamak adalah kamu, semua, atau kalian
3. Kata ganti orang ketiga, yakni yang dibicarakan. Yang termasuk kata ganti orang ketiga tunggal adalah dia atau ia, sedangkan kata ganti orang ketiga jamak adalah mereka)
Kata ganti kepunyaan
Contoh: mu dalam milikmu, ku dalam milikku, nya dalam miliknya
Kata ganti penunjuk
Contoh: di sana, di sini, di situ
• Kata Keterangan atau Adverb
Kata yang memberikan keterangan, baik akan sesuatu yang sedang dilakukan, sesuatu yang terjadi, juga menerangkan waktu, dan tempat. Contoh: Lusa, besok, hari ini, kemarin, terkadang.
• Kata sambung atau Conjunction
Kata ini biasanya diikuti oleh kata benda atau kata ganti. Digunakan untuk menghubungkan antar kata atau kalimat. Contohnya sedangkan, dan, atau, namun.
• Kata Bilangan atau Numeralia
Merupakan kata yang menunjukkan kuantitas atau jumlah suatu benda serta deret atau urutan. Contoh satu, dua, tiga, pertama, kedua, ketiga.
• Kata Depan atau Preposition
Kata yang terletak di depan kata benda atau kata ganti. Contoh: dari, pada, di atas, di bawah, di antara.
• Kata Sandang atau Determiner
Contoh : seorang, sebuang, sang, si
• Kata Seru atau Interjeksi 
Kata yang digunakan untuk menunjukkan ekspresi seperti kagum atau terkejut sehingga membuatnya berseru. Contoh : wah, wow, ah


Acc : Reza Putra Utama

Kalimat Majemuk Setara ( KMS )

Kalimat Majemuk Setara

Ciri-cirinya : dan setelah , lalu , atau
>Facebook//adalah//layananjaringan social//dan//situs web//yang diluncurkan//padafebruari 2004 yang dioperasikan//dan//dimilikiolehfacebook,Inc.

 Memiliki 3 kalimat

>facebook//adalah//sebuahlayananjejaringsocial
        S                 P                             Pel
>facebook//adalah//situs web yang diluncurkanpadafebruari 2004 yang di operasikanoleh
       S                 P                                                       Pel
  facebook,Inc.
>facebook//adalah//situs web yang di luncurkanpadafebruari 2004 yang dimilikiolehfacebook,Inc.
       S                  P                                                      Pel

Kalau P =adalah belakangnya pasti Pel


Acc : Rian Hendrawan 
KalimatDasarBerpola S-P-O :
                ~ Mereka // sedangmenyusun // karanganilmiah (Aktif)
                                S                              P                             O
                ~ Karanganilmiah // sedangdisusun // mereka (Pasif)
                                S                              P                             O
-KalimatDasarBerpola S-P-Ket :
~ Mereka // berasal // dari Surabaya.
                S              P                             Ket.
                ~ Saya // anakketiga // dariempatbersaudara.
                S                           P                                Ket.
-KalimatDasarBerpola S-P-O-K :
~Kami // memasukkan // pakaian // kedalamlemari.
                S                              P                     O                     Ket.
                ~ Mei  // mengeluarkan // kuitansi // darilacimejanya.
                S                              P                     O                     Ket.



Acc :Fardiansyah Negara 

SEJARAH BAHASA INDONESIA

SEJARAH BAHASA INDONESIA

            Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.
                        Aksara pertama dalam bahasa Melayu atau Jawi ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatera, mengindikasikan bahwa bahasa ini menyebar ke berbagai tempat di Nusantara dari wilayah ini, berkat penggunaannya oleh Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan. Istilah Melayu atau sebutan bagi wilayahnya sebagai Malaya sendiri berasal dari Kerajaan Malayu yang bertempat di Batang Hari, Jambi, dimana diketahui bahasa Melayu yang digunakan di Jambi menggunakan dialek "o" sedangkan dikemudian hari bahasa dan dialek Melayu berkembang secara luas dan menjadi beragam.
                        Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari, Jambi di pulau Sumatera, jadi secara geografis semula hanya mengacu kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatera. Dalam perkembangannya pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang lebih luas dari wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di pulau Sumatera sehingga pulau tersebut disebut juga Bumi Melayu seperti disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama.
                        Ibukota Kerajaan Melayu semakin mundur ke pedalaman karena serangan Sriwijaya dan masyarakatnya diaspora keluar Bumi Melayu, belakangan masyarakat pendukungnya yang mundur ke pedalaman berasimilasi ke dalam masyarakat Minangkabau menjadi klan Malayu (suku Melayu Minangkabau) yang merupakan salah satu marga di Sumatera Barat. Sriwijaya berpengaruh luas hingga ke Filipina membawa penyebaran Bahasa Melayu semakin meluas, tampak dalam prasasti Keping Tembaga Laguna.
                        Bahasa Melayu kuno yang berkembang di Bumi Melayu tersebut berlogat "o" seperti Melayu Jambi, Minangkabau, Kerinci, Palembang dan Bengkulu. Semenanjung Malaka dalam Nagarakretagama disebut Hujung Medini artinya Semenanjung Medini.
                        Dalam perkembangannya orang Melayu migrasi ke Semenanjung Malaysia (= Hujung Medini) dan lebih banyak lagi pada masa perkembangan kerajaan-kerajaan Islam yang pusat mandalanya adalah Kesultanan Malaka, istilah Melayu bergeser kepada Semenanjung Malaka (= Semenanjung Malaysia) yang akhirnya disebut Semenanjung Melayu atau Tanah Melayu. Tetapi nyatalah bahwa istilah Melayu itui berasal dari Indonesia.Bahasa Melayu yang berkembang di sekitar daerah Semenanjung Malaka berlogat "e".
                        Kesultanan Malaka dimusnahkan oleh Portugis tahun 1512 sehingga penduduknya diaspora sampai ke kawasan timur kepulauan Nusantara.Bahasa Melayu Purba sendiri diduga berasal dari pulau Kalimantan, jadi diduga pemakai bahasa Melayu ini bukan penduduk asli Sumatera tetapi dari pulau Kalimantan. Suku Dayak yang diduga memiliki hubungan dengan suku Melayu kuno di Sumatera misalnya Dayak Salako, Dayak Kanayatn (Kendayan), dan Dayak Iban yang semuanya berlogat "a" seperti bahasa Melayu Baku.
                        Penduduk asli Sumatera sebelumnya kedatangan pemakai bahasa Melayu tersebut adalah nenek moyang suku Nias dan suku Mentawai.Dalam perkembangannya istilah Melayu kemudian mengalami perluasan makna, sehingga muncul istilah Kepulauan Melayu untuk menamakan kepulauan Nusantara.
                        Secara sudut pandang historis juga dipakai sebagai nama bangsa yang menjadi nenek moyang penduduk kepulauan Nusantara, yang dikenal sebagai rumpun Indo-Melayu terdiri Proto Melayu (Melayu Tua/Melayu Polinesia) dan Deutero Melayu (Melayu Muda). Setelah mengalami kurun masa yang panjang sampai dengan kedatangan dan perkembangannya agama Islam, suku Melayu sebagai etnik mengalami penyempitan makna menjadi sebuah etnoreligius (Muslim) yang sebenarnya didalamnya juga telah mengalami amalgamasi dari beberapa unsur etnis.
                        M. Muhar Omtatok, seorang Seniman, Budayawan dan Sejarahwan menjelaskan sebagai berikut: "Melayu secara puak (etnis, suku), bukan dilihat dari faktor genekologi seperti kebanyakan puak-puak lain. Di Malaysia, tetap mengaku berpuak Melayu walau moyang mereka berpuak Jawa, Mandailing, Bugis, Keling dan lainnya. Beberapa tempat di Sumatera Utara, ada beberapa Komunitas keturunan Batak yang mengaku Orang Kampong - Puak Melayu
                        Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 Masehi diketahui memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuna) sebagai bahasa kenegaraan.Lima prasasti kuna yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari cabang Indo-Iran.Jangkauan penggunaan bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari abad berikutnya di Pulau Jawa dan Pulau Luzon.Kata-kata seperti samudra, istri, raja, putra, kepala, kawin, dan kaca masuk pada periode hingga abad ke-15 Masehi.
                        Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bahasa Melayu Klasik (classical Malay atau medieval Malay).Bentuk ini dipakai oleh Kesultanan Melaka, yang perkembangannya kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi.Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Laporan Portugis, misalnya oleh Tome Pires, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami oleh semua pedagang di wilayah Sumatera dan Jawa. Magellan dilaporkan memiliki budak dari Nusantara yang menjadi juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam sejarah ini adalah mulai masuknya kata-kata pinjaman dari bahasa Arab dan bahasa Parsi, sebagai akibat dari penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa Arab terus berlangsung hingga sekarang.
                        Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu.Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun, meja, bola, bolu, dan jendela.Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran), dan teknologi hingga awal abad ke-20.Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.
                        Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda.Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.
                        Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 menyatakan bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di "dunia timur".Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal.Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat. Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya di Manado, Ambon, dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pidgin.Terdapat pula bahasa Melayu Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19).Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti bahasa.
                        Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor (pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional pada masa itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.
                        Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling sedikit dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara: bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku serta bahasa Melayu Tinggi yang terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dapat dikatakan sebagai lingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua atau ketiga. Kata-kata pinjaman

Bahasa Indonesia

                        Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda para pegawai pribumi dinilai lemah.Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi (karena telah memiliki kitab-kitab rujukan) sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam standardisasi bahasa.Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah "embrio" bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.
                        Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Pada tahun 1901, Indonesia (sebagai Hindia-Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson. Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.
                        Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur ("Komisi Bacaan Rakyat" - KBR) pada tahun 1908.Kelak lembaga ini menjadi Balai Poestaka.Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah.Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan.Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,
                        "Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan."
                        Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.

Peristiwa-peristiwa penting

▪ Tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
▪ Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidang Volksraad, seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.
▪ Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.
▪ Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana.
▪ Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.
▪ Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.
▪ Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
▪ Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
▪ Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
▪ Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.
▪ Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).
▪ Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
▪ Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta.Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
▪ Tanggal 28 Oktober s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
▪ Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.



Acc : Rahmat Prayitno & Edwi Darmawan

Kalimat

KALIMAT
Satuan gahas terkecil dalam wujud lisan dan tulisan yang mengungkapkan pilihan yang utuh.Kalimat minimal memiliki Subjek dan Predikatdiakhiri tanda (.) (!) (?).Subject apapun yang dibicarakan

Kalimat  Dasar Berpola S-P
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek dan predikat.Predikat kalimat untuk tipe (berupa kata kerja ,Kata Benda,Kata Sifat atau Kata Bilangan misalnya
1).Mereka//sedang berenang .(KB.KK)
            S                      P
2).ayahnya // guru SMa .(KB 1:KB2)
            S                      P

Pola kalimat  S-P-Pel
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur  SUBJEK,PREDIKAT,dan ,PELENGKAP
MISALNYA
1).Mereka // Kehilangan // Sepeda
           SP                  Pel
2).Negara Kita // Berdasarkan //Pancasila
            S                      p          pel

Pola kalimat  S-P-O-pel
Kalimat tipe ini memiliki unsur  Subjek,Predikat,Objek ,Pelengkap
Misalnya
      1).Dia // Mengirimi //Saya//Surat
S            P                  O            Pel            (KB1 : kk : KB2:KB3 )
2).paman //Mencarikan//saya//pekerjaan
S                  P                  O         PEL


KMS  (kalimat Majemuk Setara )



Acc : Galuh Ismaya 

Jumat, 22 November 2013

Fungsi dan kedudukan bahasa indonesia

1. KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA NASIONAL Kedudukan pertama bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa persatuan. Hal ini tercantum dalam Sumpah pemuda (28-10-1928). Ini berarti bahwa bahasa Indonesia berkedudukan sebagai Bahasa Nasional. Kedua adalah sebagai bahasa negara.

Dalam kedudukannya sebagai Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia memiliki beberapa fungsi yaitu : 
1. Lambang kebanggaan kebangsaan
Bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai luhur yang mendasari perilaku bangsa Indonesia.

2. Lambang Identitas Nasional 
Bahasa Indonesia mewakili jatidiri bangsa Indonesia, selain Bahasa Indonesia terdapat pula lambang identitas nasional yang lain yaitu bendera Merah-Putih dan lambang negara Garuda Pancasila.

3. Alat perhubungan 
Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku dengan bahasa yang berbeda-beda, maka kan sangat sulit berkomunikasi kecuali ada satu bahasa pokok yang digunakan. Maka dari itu digunakanlah Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan perhubungan nasional.

4. Alat pemersatu bangsa 
Mengacu pada keragaman yang ada pada Indonesia dari suku, agama, ras, dan budaya, bahasa Indonesia dijadikan sebagai media yang dapat membuat kesemua elemen masyarakat yang beragam tersebut kedalam sebuah persatuan.

2. KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA NEGARA
Bahasa negara sama saja dengan bahasa nasional atau bahasa persatuan artinya bahasa negara merupakan bahasa primer dam baku yang acapkali digunakan pada kesempatan yang formal.

Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara yaitu : 
1. Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan. 
Kedudukan pertama dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dibuktikan dengan digunakannya bahasa Indonesia dalam naskah proklamasi kemerdekaan RI 1945. Mulai saat itu dipakailah bahasa Indonesia dalam segala upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan baik dalam bentuk lisan maupun tulis.

2. Bahasa Indonesia sebagai alat pengantar dalam dunia pendidikan. 
Kedudukan kedua dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dibuktikan dengan pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di lembaga pendidikan dari taman kanak-kanak, maka materi pelajaran yang berbentuk media cetak juga harus berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan menerjemahkan buku-buku yang berbahasa asing atau menyusunnya sendiri. Cara ini akan sangat membantu dalam meningkatkan perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknolologi (iptek)

3. Bahasa Indonesia sebagai penghubung pada tingkat Nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah. 
Kedudukan ketiga dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dibuktikan dengan digunakannya Bahasa Indonesia dalam hubungan antar badan pemerintah dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Sehubungan dengan itu hendaknya diadakan penyeragaman sistem administrasi dan mutu media komunikasi massa. Tujuan agar isi atau pesan yang disampaikan dapat dengan cepat dan tepat diterima oleh masyarakat.

4. Bahasa Indonesia Sebagai pengembangan kebudayaan Nasional, Ilmu dan Teknologi. 
Kedudukan keempat dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara dibuktikan dengan penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi, baik melalui buku-buku pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah ilmiah maupun media cetak lainnya. Karena sangatlah tidak mungkin bila suatu buku yang menjelaskan tentang suatu kebudayaan daerah, ditulis dengan menggunakan bahasa daerah itu sendiri, dan menyebabkan orang lain belum tentu akan mengerti.

3. KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA DAERAH 
Bahasa yang berkembang di dalam wilayah Indonesia sangatlah banyak. Hampir setiap daerah memiliki bahasa sendiri-sendiri seperti jawa, sunda, Madura, bali, bugis, makasar, batak, papua, dll. Bagaimanakah atau dimanakah kedudukan bahasa-bahasa tersebut? Setelah ditentukanya bahasa Indonesia yang dahulunya adalah bahasa Melayu sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara bahasa daerah yang lain seperti jawa, sunda, bali, batak, papua dan lain sebagainya ditempatkan dalam kedudukan sebagai bahasa daerah. Dalam kaitanya dengan bahasa Indonesia bahasa daerah memiliki fungsi yang sangat penting.

Fungsi nyata bahasa daerah dapat kita lihat dari banyaknya kata dalam bahasa Indonesia yang diambil dari bahasa daerah. Itu menunjukan bahwa bahasa daerah memiliki fungsi dan kedudukan yang sangat penting dalam perkembangan bahasa Indonesia.

Secara terperinci bahasa derah memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Dalam kaitanya dengan bahasa Indonesia
1. Sebagai pendukung bahasa nasional
2. Bahasa pengantar di sekolah dasar di daerah tertentu pada tingkat permulaan untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lainnya
3. Alat pengembang dan pendukung kebudayaan daerah.

b. Dalam kedudukannya sebagai bahasa derah sendiri 
1. Sebagai lambang kebanggaan daerah
2. Lambang identitas daerah
3. Alat penghubung di dalam keluarga dan masyrakat daerah

Selain bahasa daerah, ada lagi bahasa yang saat ini berkembang pesat pemakainya seperti bahasa Inggris, perancis, mandarin, belanda, jerman dan lain-lain. Adapun kedudukan dari bahasa-bahasa tersebut adalah sebagai bahasa Asing.

Dalam kedudukanya sebagai bahasa asing, bahasa-bahasa tersebut di atas tidak memiliki kemampuan atau bersaing dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional maupun bahasa Negara atau dengan kata lain bahasa asing tidak akan pernah menjadi bahasa nasional ataupun bahasa Negara Indonesia. Begitupun dalam kaitannya dengan bahasa daerah.

Bahasa aing ini memiliki fungsinya sendiri yaitu sebagai alat perhubungan antarbangsa, alat pembantu pengembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern, dan alat pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk pembangunan.

Melihat dari sisi fungsi ketiga bahasa yang berkembang di Indonesia, dapat kita ketahui bahwa semua bahasa tersebut penting dan bermanfaat bagi bangsa kita.
Namun yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai ketika kita berusaha menguasai bahasa Asing yang saat ini sedang sangat diminati kita menjadi lupa akan bahasa Daerah atau bahasa Indonesia.



Acc : Alfonso Yosua Benyamin Lentino Manurung 

Rabu, 20 November 2013

Hakikat Bahasa

Hakikat Bahasa

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang Arbitre , yang digunakan oleh para anggota
kelompok sosial untuk bekerja sama berkomunikasi dan mengidentifikasi diri .

Ciri - ciri bahasa :
  •  Sistem                 =>  Bahasa juga memiliki aturan dalam menulis 
  •  Lambang             =>  Apa lambang bahasa ?
  •  Bunyi                  =>  Bunyi / suara ?
  •  Arbitre                =>  Arbitre itu suka - suka
  •  Bermakna           =>  Bermakna artinya memiliki makna
  •  Konvensial          =>  Konvensial itu kesepakatan
  •  Produktif             =>  Satu kata dapat menjadi banyak kata
  •  Unik                    =>  Contooh keberagaman bahasa di Indonesia 
  •  Keuniversialan     =>  Vokal dan konsoversial
  •  Dinamis               =>  Jumlah kosa kata bisa bertambah bisa berkurang
  •  Bervariasi            =>  Beragam bentuk huruf
  •  Manusiawi           =>  Hanya manusia yang memiliki bahasa

Fungsi bahasa 
  • komunikasi
  • adaptasi
  • kontrol sosial
  • memahami diri
  • ekspresi diri
  • memahami orang lain
  • mengamati lingkungan
  • berfikir logis
  • membangun kecerdasan
  • membangun karakter
  • menciptakan kreativitas
  • mengembangkan profesi


Acc : Mumin Farisi